Tampilkan postingan dengan label pertanian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pertanian. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 Januari 2015

Melon 2 in 1



Berelasi dengan banyak petani itu ternyata menyenangkan. Terkadang kita mendapatkan banyak info bermanfaat yang tidak kita ketahui sebelumnya. Walau terkadang tampak sepele, tapi bila ternyata bermanfaat tentunya itu menjadi barang yang tidak percuma. Saya sendiri menyadari dunia pertanian sangatlah luas dan tidak akan habis dibahas, jadi tentunya ilmu dan informasi informasi di lapangan yang terus berkembang dan selalu berganti ganti akan selalu menambah kekayaan wacana di bidang tersebut. Inilah yang menjadi hal penting bagi perkembangan bidang pertanian. 

Dalam bidang pertanian, saat terjun di lapangan berbagai hal dapat terjadi dan berbagai hal tersebut sering tidak linear dengan ilmu/teori yang diperoleh dari pendidikan formal. Teori yang berasal dari dunia pendidikan sering datangnya dari penelitian yang sudah teruji, namun ilmu yang didapatkan dari praktek langsung di lapangan seringnya jauh lebih realistis dan aktual. Kenapa bisa demikian? Karena ketika berkebun di lapang tentunya akan mendapati banyak hal dan rintangan yang harus diatasi sehingga realita di lapangan jauh lebih aktual. Berbeda ketika berkebun pada skala penelitian, ruang lingkup lebih terkontrol dengan baik sehingga sering tidak mendapati kendala yang berarti.

Berikut saya infokan salah satu contoh kreatifitas yang dilakukan petani melon dengan membuahkan 2 buah dalam 1 tanaman, yang lalu dikaji bagaimana kelebihan dan kekurangan dari gaya penanaman tersebut. Dan inilah yang terjadi di lapangan, yang bagi saya ini adalah fakta lapangan yang dapat diangkat menjadi suatu teori sederhana sehingga dapat dijadikan pertimbangan sebelum kita mengebunkan melon.

Simak ya...

Saya kira hampir semua petani yang biasa menanam melon tentunya tau kalau dalam satu tanaman melon biasanya dibuahkan satu buah. Walaupun memungkinkan untuk dibuahkan 2 buah melon dalam satu tanaman. Saya pun juga sepakat kalau dalam satu tanaman akan lebih optimal bila diambil satu buah karena bisa menghasilkan buah yang besar dan bagus. Secara teori hal itu akan tercapai karena seluruh asimilat yang dihasilkan dari proses fotosintesis terkumpul dan tersimpan dalam satu buah. Wajar kalau buah yang dihasilkan akan lebih besar dengan tampilan prima.

Sementara itu, perusahaan benih sebagai sang produsen melon pun biasa merekomendasikan untuk membuahkan satu buah saja dalam setiap tanaman untuk menghasilkan buah yang optimal. Tapi ternyata, ada saja petani yang sengaja membuahkan 2 buah melon dalam satu tanamannya. Saya pun berpikir, benar juga, tidak salah kan membuahkan 2 buah dalam satu tanamannya, karena tidak ada keharusan untuk membuahkan 1 melon dalam satu tanaman. Semua bergantung pada kebutuhan dan keinginan dari sang pemilik. 


Dok. Arrum: melon yang dipelihara 2 buah dalam 1 tanaman

Membuahkan 2 buah melon dalam satu tanaman bukanlah perkara gampang. Ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan sebelum mengambil keputusan untuk membuahkan 2 buah dalam satu tanaman. Berikut info yang saya dapatkan:

  • Membuahkan 2 buah melon dalam 1 tanaman berarti menunda masa panen, stidaknya beberapa hari dari masa panen standar/seharusnya. Hal ini terjadi karena proses pengisian buah menjadi lebih lama/lambat karena ada dua buah yang harus diisi. Oleh karena itu buah menjadi lebih lama matang sehingga masa panen yang misalnya pada hari ke 80 dapat mundur menjadi hari ke 85 atau 90. Ketika tanaman melon dibuahkan 2 buah dan dipaksakan panen pada umur normal (sama seperti jika dibuahkan 1 buah) maka akan mendapati melon yang belum masak. 
  • Ketika menunda panen berarti resiko kematian tanaman sebelum panen menjadi lebih besar. Kenapa? Pertama karena usia normal dari melon itu sendiri sebenarnya adalah usia optimal dari pertubuhan tanaman. Jika lebih dari itu biasanya laju pertumbuhan sudah akan menurun drastis sehingga kemampuan untuk mempertahankan diri pada tanaman menjadi berkurang. Selain itu, setelah memasuki masa pengisian buah biasanya tanaman sudah ditopping oleh pekebun, jadi tidak ada lagi penambahan daun, yang ada adalah daun daun mulai menua dan mengering yang artinya tidak lagi menghasilkan asimilat. Yang kedua, dengan lebih panjangnya usia tanaman, gangguan alam seperti hama dan penyakit juga semakin besar padahal daya tahan tubuhnya sudah menurun seiring dengan penurunan laju pertumbuhan yang tadi telah disebutkan. Jadi harus berlomba lomba dengan hama dan penyakit tanaman, jangan sampai daun batang dan tubuh tanaman itu mati sebelum buah masak. Jika ternyata tanaman mati sebelum buah masak, maka kita akan memanen buah yang tidak masak. Hal ini akan memperparah keadaan, karena buah yang tidak matang tidak akan laku dijual. Sementara bila membuahkan 1 butir dalam satu tanaman buah akan masak pada jangka normalnya (biasanya mirip dengan rekomendasi produsen yang dapat dilihat dari kemasan), jadi resiko seperti yang disebutkan di atas lebih kecil.
  • Membuahkan 2 buah melon dalam 1 tanaman berarti membagi asimilat hasil fotosintesis dalam dua gudang penyimpanan (dalam hal ini buah). Otomatis ukuran buah akan jauh lebih kecil ketimbang 1 buah yang dipelihara dalam satu tanaman. Sebagai contoh, bila membuahkan satu buah, berat buah dapat mencapai 2,5 kg (rockmelon daging putih/hijau), sedangkan bila membuahkan 2 butir dalam 1 tanaman berat buah yang dicapai hanya sekitar 1,5 kg. Secara perhitungan total kilogram membuahkan 2 butir dalam satu tanaman lebih menguntungkan karena total buah yang didapat dalam satu tanaman menjadi 3 kg. Sedangkan membuahkan 1 butir tetap dengan 2,5 kg.
  • Tapi, perhitungan ekonomis akan berkata lain. Bagaimana bisa? Harga perkilo untuk tiap grade buah selalu berbeda. Grade A untuk melon berjala dengan daging hijau mencapai 5000 per kg sedangkan grade B seharga 4000 atau kurang untuk tiap kilonya. Sementara itu, melon grade A berkriteria net penuh dengan bobot berkisar antara 1,8 kg hingga 2,5 kg sedang Grade B berkriteria net 70% dengan bobot kurang dari 1,7 kg. Jadi, coba kita hitung. Melon dari tanaman yang dibuahkan satu butir akan masuk pada grade A dengan harga 5000 rupiah lalu dikalikan 2,5 kg, jadi total per tanaman yang akan diperoleh 12.500 rupiah, sedangkan melon yang dibuahkan 2 butir dengan bobot 1,5 per buah (atau kurang) akan masuk pada grade B dengan harga perkilo 4000 rupiah, bila dikalikan dengan 3 kg maka total per tanaman akan didapatkan 12.000 rupiah, itu pun masih harus menunggu masa panen yang lebih lama ketimbang buah yang dipanen dari tanaman yang dibuahkan 1 butir per pohon. Jika grade A dapat masuk ke supermarket maka akan lebih menguntungkan lagi karena harga perkilo dapat lebih dari standar dengan pengemasan dan pemberian label/merek.
Bagi saya, menanam dengan metode apa pun adalah kreatifitas yang musti diacungi jempol. Saya tidak pernah merasa perlu mengacu pada teori yang sangat saklek. Bagi saya menanam itu sama saja mengeksplorasi kemampuan, sedangkan teori hanyalah sebagian kecil dari referensi. Kita boleh melirik referensi tapi bukan untuk dijadikan pedoman mati yang harus diaplikasikan pada tanaman tanaman kita. Sah sah saja kita menciptakan gaya dan metode tersendiri. Sah sah saja kita memodifikasi metode metode yang telah ada atau memperbaiki metode metode yang terkadang telah usang. Bagi saya menggunakan gaya apapun dalam menanam itu oke oke saja. Mau membuahkan 1 buah, 2 buah atau 3 buah dalam satu tanaman misalnya pada melon tidak ada salahnya, tapi tiap tiap gaya yang dilakukan tersebut pasti memiliki konsekuensi. Selama kita tau konsekuensi dan bisa mengelola dengan baik, kenapa tidak?

Yuk mari kita bikin kebun yang sesuai dengan gaya kita masing masing…

Sabtu, 27 Desember 2014

Perspektif: Menyemai Benih untuk Pengetesan Daya Tumbuh, untuk Ditanam di Lahan dan untuk Ditanam Sistem Hidroponik



Membuat semaian benih untuk tes uji daya tumbuh, untuk ditanam di lahan dan untuk ditanam dengan sistem hidroponik itu memiliki cara dan metode yang berbeda. Sebagai orang yang pernah bekerja sebagai quality control dengan pekerjaan utama mengetes daya tumbuh benih saya dapat merasakan perbedaan ketiga hal di atas. 

Menyemai untuk pengetesan daya tumbuh ternyata dapat dikerjakan dengan mudah. Mengapa? Karena sudah ada SOP nya dengan sangat jelas dan kita yang melakukan tinggal nyontek saja, tak perlu berinovasi karena ini dapat menyalahi aturan (tentu saja ini kurang menyenangkan bagi orang-orang kreatif). Dalam aturan tidak ada keharusan untuk menghasilkan semaian yang bagus, karena tujuannya hanya untuk pengetesan. Yang penting kita memperlakukan si benih sesuai SOP lalu melihat kemampuan si benih untuk tumbuh itu seperti apa. Asalkan benih tumbuh memenuhi kriteria normal utuh tidak cacat dan tidak busuk akan dianggap sebagi benih normal yang masuk sebagai data daya tumbuh benih, tak peduli itu benih etiolasi atau tidak karena etiolasi tidak masuk dalam benih abnormal (dalam lingkup pengetesan). 

Ketika saya sedang melakukan pengetesan, saya pun sering merasa tanpa ada beban. Prinsip saya, saya harus melakukan sesuai dengan prosedur, misalnya sampel harus acak, kondisi alat dan wadah yang digunakan harus dalam kondisi semirip mungkin antara satu ulangan dengan ulangan lain, harus diletakkan pada tempat yang sama, kondisi air juga harus sama, jumlah sampel harus sama dan sebagainya dalam tiap-tiap perulangan atau sampel yang saya tes. Cara menyemai pun juga harus mengikut SOP misal dengan metoda penggunaan kertas atau metode "Between Paper" (benih disemai dalam kertas yang digulung), dengan metode semai diatas kertas atau metode "Top Paper" (menggunakan kertas saring dan benih disemai diatas kertas saring basah yang diletakkan dalam cawan petri) dan dalam media pasir steril atau metode "Sand". Jadi cukup mudah bagi saya, karena sudah ada panduannya. Yang sulit adalah bagaimana kita harus bekerja konsisten untuk tiap-tiap ulangan dari sampel yang dites, agar perbedaan antar ulangan tidak melebihi batas toleransi yang ditetapkan oleh ISTA (International Seed Testing Association). Itu saja.

Dibandingkan dengan menyemai untuk pengetesan daya tumbuh, menyemai benih untuk ditanam di lahan pada dasarnya tidak mudah. Mengapa? Yang pertama jelas karena tidak ada SOP nya. Siapa yang berani mengklaim SOP penyemaian benih untuk ditanam di lahan? Pernah suatu ketika saya marah sama customer saat menanyakan tentang SOP menyemai benih pepaya (saat saya masih bekerja di suatu perusahaan benih). Si customer mendesak diberi tau SOP untuk menyemai benih pepaya. Saya bilang SOP apa? Dan SOP keluaran siapa? Hukum keberhasilan menyemai di lahan berdasar pada hukum alam dan kemampuan seseorang dalam menyemai. Tidak bisa distandarkan dengan SOP. Karena lingkungan berpengaruh dalam penyemaian. Di daerah A yang panas tentu harus diperlakukan beda dengan daerah B yang dingin, misalnya. Apabila dia minta SOP yang saya pakai untuk mengetes tentu saja tidak bisa diterapkan di lahan, karena SOP tersebut fungsinya untuk pengetesan. Sementara itu dalam pengetesan benih, faktor seperti suhu, cahaya dan kelembaban ruang untuk menyemai harus trekontrol oleh alat yang salah satunya dapat menggunakan mesin germinator. La kalau mau pakai SOP yang saya pakai, musti punya alat yang sama bukan? Makanya saya tidak mau memberikan SOP yang saya pakai untuk pengetesan, karena jelas tidak bisa diterapkan di lahan, yang bisa saya kasih adalah contoh cara-cara alternatif untuk menyemai benih (waktu itu dia minta benih pepaya) yang biasa dipakai oleh banyak orang dan telah berhasil. 

Benih disemai dalam cawan petri dengan metode Top Paper untuk pengetesan daya tumbuh
Benih disemai dalam kertas dengan metode Between Paper
Kembali lagi tentang menyemai benih untuk ditanam di lahan. Bagaimana dengan alasan kedua, mengapa tidak mudah menyemai untuk ditanam di lahan? Karena dengan adanya alasan pertama menyebabkan kita dituntut untuk banyak banyak mencoba untuk mendapatkan cara yang pas. Bukan berarti teori menyemai itu gak terpakai sama sekali sie, tapi kita dituntut lebih banyak eksperimen ketimbang sekedar mempraktikkan teori. Jadi kepekaan terhadap lingkungan, insting, kemauan, perhatian serta keseriusan dalam menyemai menjadi kunci utama keberhasilan menyemai. Kalau baru praktik sekali atau dua kali tentunya belumlah bisa mengenal lebih jauh trik trik menyemai terutama untuk benih yang harus diperlakukan secara khusus pada saat menyemainya, misalnya untuk benih yang bermasalah, benih dengan biji keras, benih dengan ukuran sangat kecil, atau benih yang tidak biasa ditanam di daerah kita yang nantinya butuh adaptasi dan sebagainya. Intinya butuh banyak praktik. Itu lah yang menjadi alasan kenapa saya bilang lebih sulit.

Benih disemai dalam tray dengan tanah, kompos dan cocopeat




Benih disemai dalam rockwool untuk hidroponik






Lalu, menyemai benih yang akan ditanam secara hidroponik juga sama susahnya dengan menyemai benih yang ditanam di lahan. Alasannya sama. Tidak ada SOP dan kita musti coba-coba untuk mendapatkan cara yang pas. Bedanya, kalau benih yang disemai untuk hidroponik menggunakan media yang tidak sama dengan benih yang disemai untuk ditanam di lahan. Media semaian untuk hidroponik berbahan non tanah yang notabenenya adalah bahan-bahan yang tidak menyediakan unsur hara yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman misalnya, rockwool, cocopeat, sekam bakar steril, spons, kapas, perlit dll. Sementara media semaian untuk bibit yang akan ditanam di lahan berupa tanah yang dicampur dengan bahan organik ataupun non organik yang di dalamnya telah menyediakan unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman misalnya kompos, pupuk kandang atau humus. Yang musti dipegang dalam menyemai benih untuk ditanam di lahan atau ditanam dengan hidroponik adalah prinsip menghasilkan bibit yang baik, normal, sehat dan vigor yang juga tidak etiolasi serta diusahakan tidak terserang penyakit.

Nilai plus yang saya dapat dari menyemai yang dipersiapkan untuk ditanam di lahan atau untuk ditanam secara hidroponik adalah bahwa saya jadi merasa bisa belajar dengan adanya kebebasan dalam menentukan cara dan trik trik menyemai benih. Selain itu bisa berinovasi dan mengenali karakter tiap-tiap benih selama masa pertumbuhan dan perkembangannya. 

Menyemai benih untuk ditanam di lahan sudah biasa saya lakukan, sedangkan menyemai benih untuk berhidroponik adalah metode menyemai yang baru mulai saya praktikkan. Jadi saya pun musti banyak belajar untuk mengetahui bagaimana berbagai macam benih harus diperlakukan saat disemai, agar menghasilkan bibit yang baik untuk ditanam dengan hidroponik.

Rabu, 24 Desember 2014

Bisnis Penyemaian Benih

Tak disangka, sektor pertanian ternyata memiliki lini yang cukup luas. Mulai dari bisnis yang dikerjakan di sawah, pasar, industri hingga kantor pemerintahan semua dapat dicakupkan kesana. Lebih detail lagi di setiap lini masih dibagi-bagi lagi menjadi bagian-bagian yang lebih kecil yang menjadikan lini tersebut mencakup bidang kerja yang juga lebih luas. Sayang sekali lini-lini pada sektor pertanian sering tidak dilirik sebagai bidang usaha yang menjanjikan. 

Beberapa waktu lalu saya ketemu seorang pengelola bank perkreditan yang sudah berpengalaman puluhan tahun, dalam sebuah pertemuan. Dalam perbincangan singkat tersebut beliau menanyakan pekerjaan saya, saya pun menceritakan sedikit karena tak mau dikira sombong dan karena saya menghormati beliau sebagai orang yang lebih tua. Di akhir cerita saya beliau agak sedikit terkejut bahwa ternyata bidang pertanian pun memiliki sektor industri, yang kebetulan waktu itu saya masih bekerja di perusahaan benih maka yang saya ceritakan ya perusahaan benih. Beliau pikir pertanian itu pekerjaannya di seputar sawah atau kebun saja. Tampaknya beliau juga tidak tahu kalau usaha di bidang pertanian itu bisa sangat menjanjikan. Malah kata beliau selama ini perkreditan yang dikelolanya tak pernah bersedia investasi pada usaha pertanian karena tak tahu kalau bisnis pertanian itu pun bisa menghasilkan untung berlipat, semacam takut jadi kredit macet. Padahal, bisnis pertanian itu secara logis pasti menjanjikan, bagaimana tidak semua orang butuh makan, sementara tidak semua mampu mencukupi kebutuhannya sendiri, selalu butuh pelaku pertanian untuk memperoleh barang kebutuhan pokoknya untuk makan itu sendiri. Tapi ini tidak tertpikirkan oleh sebagian orang, mereka lebih memandang sektor perdagangan, industri atau transportasi jauh lebih menjanjikan. Saya pun jadi miris dan berpikir memang benar adanya bahwa "tak kenal maka tak sayang, tak tau maka tak mau".

Kali ini saya mau membicarakan salah satu bisnis pertanian di lini penyemaian benih atau penjualan/jasa pembuatan bibit sayur yang cukup menjanjikan. Dulu saya pun tak tau kalau banyak petani menggunakan bibit dengan membeli atau memesan pada penyemai bukannya menyemai sendiri. Tapi ternyata petani sayur justru lebih sering membeli sudah dalam bentuk bibit dengan alasan repot, tak sempat karena mengurusi persiapan lahan, tidak mahir menyemai (padahal kan pintar nanam, dan ternyata penyemai dan petani yang biasa bercocok tanam di lahan merupakan 2 keahlian yang berbeda...saya cuma bengong) atau tak punya tempat untuk menyemai (iya juga, karena menyemai butuh sungkup/rumah-rumahan, rak semai dan media khusus, maka kalau tak sekalian banyak tentunya tidak efisien, ini yang jadi pertimbangan banyak petani untuk memutuskan beli bibit siap tanam).

Bisnis penyemaian benih hortikultura seperti kubis, cabai, kubis bunga, broccoli, tomat, dll banyak tersebar di daerah-daerah yang dekat dengan area pertanian sayur seperti, ngablak-magelang, dieng-wonosobo atau kledung perbatasan wonosobo-temanggung dan masih banyak lagi yang lain. Daerah tersebut selain dekat dengan konsumennya, juga dekat dengan sumber daya manusia yang ahli menyemai. Jadi tak salah kalau mau mencari bibit sayur tanpa harus menyemai sendiri bisa datang langsung ke tempat-tempat tersebut. Selain menjual bibit yang ready stock biasanya penyemai juga terima pesanan dengan varietas sesuai permintaan. 

Konon bisnis penyemaian ini dapat mendatangkan keuntungan yang besar. Modal tidak terlalu besar dan perputaran uang cepat karena umur bibit siap jual paling hanya dua atau tiga minggu tergantung jenisnya. Asal perawatan bagus dan benih yang digunakan juga bagus dengan daya tumbuh yang tinggi serta benih tersebut banyak diminati maka jarang mereka menuai rugi, kecuali jika pembeli bibit mereka hutang dan tidak kunjung membayar karena gagal panen, barulah mereka merugi.

Bagaimana, tertarik bisnis penyemaian benih?

Jumat, 19 Desember 2014

Mengapa daya tumbuh semangka nonbiji lebih rendah daripada semangka berbiji?

Mengapa daya tumbuh semangka nonbiji lebih rendah daripada semangka berbiji?

Pertanyaan tersebut sering saya terima sebagai salahsatu bentuk komplain dari pelanggan di tempat saya bekerja (dulu). Kebetulan saya bertugas sebagai quality control benih (di suatu perusahaan benih swasta), maka saya berkewajiban menjawab pertanyaan tersebut.
Mungkin berikut ini merupakan sedikit penjelasan yang bisa saya sampaikan:

Benih semangka nonbiji merupakan salahsatu benih hibrida yang didefinisikan sebagai benih hasil persilangan dua induk yang berbeda sifat sehingga benih hasil persilangan ini lebih unggul dibandingkan dengan sifat kedua induknya. Bila ditelusur semangka nonbiji berasal dari persilangan semangka tetraploid dan semangka diploid sehingga menghasilkan semangka triploid yang salahsatunya dicirikan oleh sifatnya yang seedless (yang kita kenal dengan istilah nonbiji). Jadi semangka nonbiji yang kita temui di lapangan merupakan semangka hibrida yang bersifat triploid.

Pada proses pembuatan seedless watermelon (semangka nonbiji), tidak semua biji yang dihasilkan bersifat viable. Bahkan menurut sebuah penelitian viabilitas seedless watermelon bisa saja hanya berkisar antara 2,5 hingga 85% dalam satu periode produksi. Rendahnya viabilitas benih semangka nonbiji salahsatunya disebabkan karena ukuran embrio cukup kecil bila dibandingkan dengan semangka berbiji. Embrio yang kecil ini berada dalam cangkang atau kulit luar benih (testa) yang lebih tebal dari kulit benih semangka berbiji. Kondisi embrio yang demikian memiliki kecenderungan tidak tahan disimpan terlalu lama, karena cadangan makanannya sedikit sehingga benih cepat turun viabilitasnya. Ini menjadi salah satu alasan mengapa daya tumbuh semangka nonbiji lebih rendah.

Di sisi lain semangka nonbiji ternyata memiliki cirikhas berkulit lebih tebal daripada jenis semangka berbiji. Hal ini menyebabkan sulitnya air menembus kulit menuju ke embrio pada saat proses perkecambahan. Air yang tidak dapat masuk ke benih, menyebabkan benih tidak tumbuh meskipun kondisi air mencukupi untuk inisiasi perkecambahan. Akibatnya, daya tumbuh menjadi rendah.

Jadi, jelas sudah bahwa kecilnya ukuran embrio dan tebalnya kulit benih semangka nonbiji menjadi salah satu faktor pembatas bagi si benih untuk berkecambah, sehingga berpengaruh terhadap persentase daya tumbuh pada suatu populasi benih.

Adakah solusi untuk mengatasi rendahnya daya tumbuh semangka nonbiji bila kita akan membudidayakannya?

Salahsatu solusi yang bisa dilakukan adalah dengan meminimalisir kegagalan benih untuk berkecambah. Berikut tips dan trik dalam meminimalisir kegagalan benih berkecambah yang bisa saya bagi untuk mengatasi masalah rendahnya daya tumbuh semangka nonbiji :
* menggunakan benih yang masih baru (belum disimpan terlalu lama)
* melukai/memotong sebagian kulit benih (tetapi jangan sampai merusak embrio) agar memudahkan air masuk menembus kulit benih dan sampai pada embrio untuk berimbibisi
* merendam benih dalam zat pengatur tumbuh selama kurang lebih 5 menit
* merendam benih dalam air selama kuranglebih 2 jam untuk mempermudah proses imbibisi (penyerapan air oleh benih) sebelum disemai pada media semai
* menggunakan benih yang terjamin kualitasnya.
Dok. Arrum 2014: Benih semangka nonbiji yang telah dikecambahkan selama 2 hari (dengan pemotongan kulit benih bagian ujung)

Galeri

Galeri
Eastern Rise (F1-Hybrid produk PT Known You Seed)