Senin, 12 Januari 2015

Melon 2 in 1



Berelasi dengan banyak petani itu ternyata menyenangkan. Terkadang kita mendapatkan banyak info bermanfaat yang tidak kita ketahui sebelumnya. Walau terkadang tampak sepele, tapi bila ternyata bermanfaat tentunya itu menjadi barang yang tidak percuma. Saya sendiri menyadari dunia pertanian sangatlah luas dan tidak akan habis dibahas, jadi tentunya ilmu dan informasi informasi di lapangan yang terus berkembang dan selalu berganti ganti akan selalu menambah kekayaan wacana di bidang tersebut. Inilah yang menjadi hal penting bagi perkembangan bidang pertanian. 

Dalam bidang pertanian, saat terjun di lapangan berbagai hal dapat terjadi dan berbagai hal tersebut sering tidak linear dengan ilmu/teori yang diperoleh dari pendidikan formal. Teori yang berasal dari dunia pendidikan sering datangnya dari penelitian yang sudah teruji, namun ilmu yang didapatkan dari praktek langsung di lapangan seringnya jauh lebih realistis dan aktual. Kenapa bisa demikian? Karena ketika berkebun di lapang tentunya akan mendapati banyak hal dan rintangan yang harus diatasi sehingga realita di lapangan jauh lebih aktual. Berbeda ketika berkebun pada skala penelitian, ruang lingkup lebih terkontrol dengan baik sehingga sering tidak mendapati kendala yang berarti.

Berikut saya infokan salah satu contoh kreatifitas yang dilakukan petani melon dengan membuahkan 2 buah dalam 1 tanaman, yang lalu dikaji bagaimana kelebihan dan kekurangan dari gaya penanaman tersebut. Dan inilah yang terjadi di lapangan, yang bagi saya ini adalah fakta lapangan yang dapat diangkat menjadi suatu teori sederhana sehingga dapat dijadikan pertimbangan sebelum kita mengebunkan melon.

Simak ya...

Saya kira hampir semua petani yang biasa menanam melon tentunya tau kalau dalam satu tanaman melon biasanya dibuahkan satu buah. Walaupun memungkinkan untuk dibuahkan 2 buah melon dalam satu tanaman. Saya pun juga sepakat kalau dalam satu tanaman akan lebih optimal bila diambil satu buah karena bisa menghasilkan buah yang besar dan bagus. Secara teori hal itu akan tercapai karena seluruh asimilat yang dihasilkan dari proses fotosintesis terkumpul dan tersimpan dalam satu buah. Wajar kalau buah yang dihasilkan akan lebih besar dengan tampilan prima.

Sementara itu, perusahaan benih sebagai sang produsen melon pun biasa merekomendasikan untuk membuahkan satu buah saja dalam setiap tanaman untuk menghasilkan buah yang optimal. Tapi ternyata, ada saja petani yang sengaja membuahkan 2 buah melon dalam satu tanamannya. Saya pun berpikir, benar juga, tidak salah kan membuahkan 2 buah dalam satu tanamannya, karena tidak ada keharusan untuk membuahkan 1 melon dalam satu tanaman. Semua bergantung pada kebutuhan dan keinginan dari sang pemilik. 


Dok. Arrum: melon yang dipelihara 2 buah dalam 1 tanaman

Membuahkan 2 buah melon dalam satu tanaman bukanlah perkara gampang. Ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan sebelum mengambil keputusan untuk membuahkan 2 buah dalam satu tanaman. Berikut info yang saya dapatkan:

  • Membuahkan 2 buah melon dalam 1 tanaman berarti menunda masa panen, stidaknya beberapa hari dari masa panen standar/seharusnya. Hal ini terjadi karena proses pengisian buah menjadi lebih lama/lambat karena ada dua buah yang harus diisi. Oleh karena itu buah menjadi lebih lama matang sehingga masa panen yang misalnya pada hari ke 80 dapat mundur menjadi hari ke 85 atau 90. Ketika tanaman melon dibuahkan 2 buah dan dipaksakan panen pada umur normal (sama seperti jika dibuahkan 1 buah) maka akan mendapati melon yang belum masak. 
  • Ketika menunda panen berarti resiko kematian tanaman sebelum panen menjadi lebih besar. Kenapa? Pertama karena usia normal dari melon itu sendiri sebenarnya adalah usia optimal dari pertubuhan tanaman. Jika lebih dari itu biasanya laju pertumbuhan sudah akan menurun drastis sehingga kemampuan untuk mempertahankan diri pada tanaman menjadi berkurang. Selain itu, setelah memasuki masa pengisian buah biasanya tanaman sudah ditopping oleh pekebun, jadi tidak ada lagi penambahan daun, yang ada adalah daun daun mulai menua dan mengering yang artinya tidak lagi menghasilkan asimilat. Yang kedua, dengan lebih panjangnya usia tanaman, gangguan alam seperti hama dan penyakit juga semakin besar padahal daya tahan tubuhnya sudah menurun seiring dengan penurunan laju pertumbuhan yang tadi telah disebutkan. Jadi harus berlomba lomba dengan hama dan penyakit tanaman, jangan sampai daun batang dan tubuh tanaman itu mati sebelum buah masak. Jika ternyata tanaman mati sebelum buah masak, maka kita akan memanen buah yang tidak masak. Hal ini akan memperparah keadaan, karena buah yang tidak matang tidak akan laku dijual. Sementara bila membuahkan 1 butir dalam satu tanaman buah akan masak pada jangka normalnya (biasanya mirip dengan rekomendasi produsen yang dapat dilihat dari kemasan), jadi resiko seperti yang disebutkan di atas lebih kecil.
  • Membuahkan 2 buah melon dalam 1 tanaman berarti membagi asimilat hasil fotosintesis dalam dua gudang penyimpanan (dalam hal ini buah). Otomatis ukuran buah akan jauh lebih kecil ketimbang 1 buah yang dipelihara dalam satu tanaman. Sebagai contoh, bila membuahkan satu buah, berat buah dapat mencapai 2,5 kg (rockmelon daging putih/hijau), sedangkan bila membuahkan 2 butir dalam 1 tanaman berat buah yang dicapai hanya sekitar 1,5 kg. Secara perhitungan total kilogram membuahkan 2 butir dalam satu tanaman lebih menguntungkan karena total buah yang didapat dalam satu tanaman menjadi 3 kg. Sedangkan membuahkan 1 butir tetap dengan 2,5 kg.
  • Tapi, perhitungan ekonomis akan berkata lain. Bagaimana bisa? Harga perkilo untuk tiap grade buah selalu berbeda. Grade A untuk melon berjala dengan daging hijau mencapai 5000 per kg sedangkan grade B seharga 4000 atau kurang untuk tiap kilonya. Sementara itu, melon grade A berkriteria net penuh dengan bobot berkisar antara 1,8 kg hingga 2,5 kg sedang Grade B berkriteria net 70% dengan bobot kurang dari 1,7 kg. Jadi, coba kita hitung. Melon dari tanaman yang dibuahkan satu butir akan masuk pada grade A dengan harga 5000 rupiah lalu dikalikan 2,5 kg, jadi total per tanaman yang akan diperoleh 12.500 rupiah, sedangkan melon yang dibuahkan 2 butir dengan bobot 1,5 per buah (atau kurang) akan masuk pada grade B dengan harga perkilo 4000 rupiah, bila dikalikan dengan 3 kg maka total per tanaman akan didapatkan 12.000 rupiah, itu pun masih harus menunggu masa panen yang lebih lama ketimbang buah yang dipanen dari tanaman yang dibuahkan 1 butir per pohon. Jika grade A dapat masuk ke supermarket maka akan lebih menguntungkan lagi karena harga perkilo dapat lebih dari standar dengan pengemasan dan pemberian label/merek.
Bagi saya, menanam dengan metode apa pun adalah kreatifitas yang musti diacungi jempol. Saya tidak pernah merasa perlu mengacu pada teori yang sangat saklek. Bagi saya menanam itu sama saja mengeksplorasi kemampuan, sedangkan teori hanyalah sebagian kecil dari referensi. Kita boleh melirik referensi tapi bukan untuk dijadikan pedoman mati yang harus diaplikasikan pada tanaman tanaman kita. Sah sah saja kita menciptakan gaya dan metode tersendiri. Sah sah saja kita memodifikasi metode metode yang telah ada atau memperbaiki metode metode yang terkadang telah usang. Bagi saya menggunakan gaya apapun dalam menanam itu oke oke saja. Mau membuahkan 1 buah, 2 buah atau 3 buah dalam satu tanaman misalnya pada melon tidak ada salahnya, tapi tiap tiap gaya yang dilakukan tersebut pasti memiliki konsekuensi. Selama kita tau konsekuensi dan bisa mengelola dengan baik, kenapa tidak?

Yuk mari kita bikin kebun yang sesuai dengan gaya kita masing masing…

Selasa, 06 Januari 2015

Daur Ulang Rockwool



Rockwool...
Merupakan salah satu media yang umum digunakan dalam hidroponik. Media ini terbuat dari bebatuan alam seperti basalt dan kapur yang diolah dan dipintal menjadi serat serat yang porous sehingga memungkinkan sirkulasi air dan udara mejadi mudah. Kondisi inilah yang menyebabkan media yang satu ini menjadi paling efektif diunakan untuk media tanam dalam hidroponik. Mengapa? Karena dalam hidroponik nutrisi yang dibutuhkan oleh tanaman dilarutkan dalam air dan diaplikasikan tersistematis dan terus menerus pada media, sehingga media yang porous seperti rockwool ini sangat efektif dan efisien digunakan dalam hidroponik.

Sebagai media tanam, rockwool dapat digunakan dari sejak benih disemai hingga dipindahkan ke larutan nutrisi sesuai dengan sistem hidroponik yang digunakan. Prinsipnya, benih disemai pada rockwool hingga menghasilkan bibit siap tanam, kemudian bibit bibit tersebut dipindah ke sistem hidroponik baik itu NFT, wick, rakit apung atau aeroponik. 

Secara ekonomis rockwool tergolong media tanam yang mahal. Oleh karena itu sayang bila rockwool hanya digunakan untuk sekali pakai. Pada prinsipnya rockwool memang bisa dipakai kembali untuk menanam karena bahan dasar media ini tidak mudah rusak, paling hanya hancur bentuknya selepas dipakai untuk menanam, sehingga banyak orang malas untuk menggunakan kembali rockwool yang telah dipakai untuk menanam karena bentuknya yang hancur dan tidak enak dipandang. Selain itu juga sering masih tertinggal akar akar tanaman pada sela sela/pori pori rockwool. Melihat kondisi ini, iseng iseng saya mecoba membuat daur ulang rockwool agar bisa digunakan kembali dengan mencetak ulang pada cetakan cetakan sederhana agar bentuknya lebih enak dipandang dan gampang digunakan. 

Langkah pertama yang dilakukan adalah mengumpulkan sisa sisa rockwool yang telah dipakai untuk menanam. Setelah itu rendam dalam air bersih selama beberapa menit. Langkah selanjutnya adalah pilahkan dan buang sisa sisa akar yang terkadang masih tersangkut pada sela sela rockwool hingga bersih. Hal ini dilakukan untuk menghindari tertinggalnya jamur dan bakteri yang kemungkinan ada dalam sisa sisa akar tanaman (catatan: lebih baik menggunakan sisa rockwool bekas tanaman tanaman yang sehat, rockwool bekas untuk menanam tanaman yang pernah terkena penyakit misalnya layu bakteri, layu fusarium, busuk pangkal batang/gummy stem blight dll sebaiknya dimusnahkan atau tidak digunakan kembali karena berpotensi menularkan penyakit).

Setelah rockwool bersih dari sisa sisa akar tanaman mulailah menghancurkan rockwool tersebut dengan meremas remas atau memisah misahkan serat serat rockwool hingga benar benar hancur atau lembut seperti bubur. Setelah itu saring dan pindahkan ke wadah yang bersih sambil diperas agar airnya keluar. Rendam lagi dengan air panas hingga air menjadi dingin sambil diaduk aduk. Perendaman dengan air panas bertujuan untuk membunuh bakteri dan jamur yang kemungkinan masih ada pada rockwool (akan lebih baik apabila direbus sebentar hingga mendidih lalu didinginkan).  
Dok. Arrum: skema daur ulang rockwool
Langkah selanjutnya adalah menyiapkan cetakan untuk membentuk rockwool agar mudah digunakan. Saya mencoba dengan menggunakan cetakan sederhana yakni menggunkan cetakan bekas es krim (sekalian memanfaatkan barang bekas) yang sebelumnya dilubangi bagian bawahnya (untuk mengeluarkan air dari rockwool). Mungkin juga  bisa dibentuk dengan bentuk-bentuk lain sesuai dengan selera. Setelah itu bubur rockwool yang telah dingin dapat dituang pada cetakan yang telah disiapkan. Tekan tekan dengan tangan agar air keluar dari lubang lubang cetakan. Padatkan hingga air tidak lagi menetes dari lubang cetakan. Kemudian setelah terlihat keras dan tidak lagi menetes airnya keluarkan rockwool dari cetakan. Jemur rockwool yang telah dicetak dibawah terik matahari. Jemur hingga kering sekitar 2 atau 3 hari terhantung tebal tipis cetakan dan tergantung cuaca saat menjemur. Tujuan menjemur hingga kering adalah agar rockwool daur ulang ini dapat disimpan kembali bila tidak langsung digunakan. Sampai pada langkah ini rockwool daur sudah jadi dan siap digunakan untuk menanam lagi. Mudah kan?

Catatan: Ide ini tercipta saat lagi kurang kerjaan plus sayang mau membuang barang-barang bekas yang masih bisa dipakai (niat mau irit), hehe... Dan ide ini masih jauh dari kesempurnaan, masukan kritik dan saran yang membangun sangat saya harapkan dari para pembaca. 

Selamat mencoba!!!

Kamis, 01 Januari 2015

Image: Ulat Grayak (Spodoptera litura)



Doc. Arrum: Ulat Grayak (Spodoptera litura)

Larva Spodoptera litura atau dikenal dengan nama ulat grayak merupakan salah satu hama yang menyerang tanaman kubis. Hama ini biasa menyerang tanaman yang masih muda. Tanaman ini merusak daun, pucuk batang atau tunas tanaman hingga tanaman habis dan mati. Ulat grayak biasa bersembunyi di dalam tanah pada siang hari dan menyerang tanaman pada malam hari. Hama ini biasanya merusak tanaman secara bersama-sama sehingga dalam satu malam seluruh tanaman akan habis dimakan sekelompok ulat grayak.

Galeri

Galeri
Eastern Rise (F1-Hybrid produk PT Known You Seed)