Kamis, 05 Maret 2015

Srikaya: Favorit Ibu Saya

Buah srikaya akhir-akhir ini marak di kalangan pecinta tanaman buah dalam pot (tabulampot). Kalau dulu hanya dikenal buah srikaya lokal kini buah srikaya banyak macamnya. Ada yang bilang impor, ada yang bilang hasil persilangan ada juga yang bilang hasil eksplorasi dari daerah daerah pedalaman. Terlihat pula buah srikaya sekarang bisa kita jumpai yang ukurannya jumbo, atau yang kulitnya lebih liat dan tidak mudah rapuh. Tapi bukan itu yang saya soroti. Saya melihat tanaman srikaya kini sangat mudah tumbuh dimana mana (srikaya lokal). Bahkan bijinya cukup mudah ditumbuhkan. Asal buah sudah tua atau matang di pohon biasanya bijinya mudah tumbuh menjadi tanaman baru. Sifat tanamannya juga cukup stabil atau tidak mudah berubah. Beda dengan mangga atau rambutan yang kadang setelah beberapa periode berbuah, buah yang dihasilkan lama kelamaan akan menurun kualitasnya.

Saya ingat sekali jaman saya masih kecil buah ini menjadi buah yang dicari cari ibu saya ketika bepergian ke kota lain, karena di daerah saya cukup langka. Itupun tidak setiap waktu karena saat tidak musim buah ini juga jarang ditemukan. Selang beberapa tahun ketika saya kuliah di Jogja saya mulai sering melihat buah ini dijajakan di pinggiran malioboro. Tiap kali melihat buah srikaya saya ingat kalo itu termasuk buah kesukaan ibu saya.

Kini tanaman srikaya banyak tumbuh di halaman rumah saya. Saat pulang kampung seperti ini, saya bisa melihat buah srikaya bergelayut diantara cabang cabang tanaman srikaya. Kata ibu tanaman itu berasal dari biji biji srikaya dari buah yang dibeli di pasar (awalnya) dan sekarang telah berkembang menjadi beberapa tanaman yang tumbuh besar. Kata ibu ini kalau lagi rajin berbuah akan banyak sekali buahnya dan bisa lama periode berbuahnya. Saat buah telah habis dari cabang cabang tanaman akan segera mengeluarkan calon bunga tampa harus menunggu lama. Wahh...dapat ilmu lagi.

Saat ini di daerah saya sudah banyak yang memiliki tanaman srikaya. Padahal dulu cukup langka bahkan saya jarang mendengar ada yang punya tanaman ini di kampung saya. Apa karena dulu tidak banyak yang mengenal buah ini sehingga tak banyak orang mau menanamnya atau karena tanaman ini dulu sulit ditumbuhkan di tempat saya lalu sekarang cocok dan mudah beradaptasi di lingkungan tempat tinggal di kampung saya (semacam ada perbedaan iklim antara dulu dan sekarang)? Entahlah

Minggu, 01 Februari 2015

Pesona Zinnia



Inilah salah satu tanaman hias yang kini mulai banyak dicari, Zinnia. Tanaman yang satu ini dapat dijadikan bunga potong untuk menghias ruangan, untuk hantaran atau untuk dirangkai dalam bentuk karangan bunga yang biasa diperjualbelikan sebagai ucapan selamat. Warna warni bunga Zinnia dengan ragam tipe mahkota mulai dari mahkota tunggal, berlapis hingga tipe pom-pom yang indah membuat bunga ini cocok untuk dijadikan pajangan. Bunga Zinnia juga merupakan salah satu bunga yang tidak mudah layu sehingga menjadikannya sebagai bunga potong adalah pilihan yang jitu dalam mendekorasi ruangan.
  
Zinnia atau di Indonesia disebut bunga kertas memiliki beberapa macam spesies, salah satu spesies yang populer atau sering kita lihat tumbuh liar itu termasuk dalam kelompok Zinnia elegans yang juga disebut  Z. violacea. Bunga ini berasal dari Amerika selatan dan banyak varietas dari spesies ini tersebar di Mexico. Spesies lain dari zinnia yang cukup terkenal antara lain Z. angustifolia, Z. Grandiflora, Z. Peruviana atau Z. Bicolor.
 
Doc. Arrum: Bunga Ziinia (pengambilan gambar di taman Alun-alun Magelang)
Di Indonesia tanaman ini banyak tumbuh liar sebagai semak di daerah daerah yang tidak terawat seperti kebun, pinggiran sungai, pinggiran makam atau di pekarangan pekarangan. Tanaman ini tergolong tanaman semusim yang sekali berbunga setelah itu akan mati. Zinnia berkembangbiak dengan biji. Zinnia juga mudah sekali menyerbuk sendiri secara alami ataupun dengan bantuan serangga, sehingga cukup mudah menghasilkan biji sebagai alat perkembangbiakan.     

Biji-biji atau benih inilah yang kemudian diperjualbelikan dari daerah satu ke daerah lain. Adanya perdagangan benih ini turut andil dalam menyebarkan tanaman Zinnia dari daerah yang tadinya tidak ada menjadi ada. Daya adaptif yang kuat dengan syarat tumbuh yang mudah, kebutuhan pH normal dan kondisi iklim yang hangat menjadikan tanaman ini semakin populer di berbagai daerah seperti di Indonesia. Kebanyakan orang suka menanam Zinnia karena selain cantik bunganya juga mudah perawatan dan pertumbuhannya.
 
Doc. Arrum: Bunga Ziinia (pengambilan gambar di taman Alun-alun Magelang)
Kini tak jarang bunga Zinnia menghias taman-taman kota, halaman hotel, kebun wisata atau terpajang di ruang publik seperti restoran dan perkantoran. Selain itu, bunga potong Zinnia dapat dijadikan karangan untuk ucapan selamat, dekorasi untuk pesta pernikahan, atau untuk menghias hantaran dan parcel-parcel. Mesti bunga ini tidak menimbulkan keharuman tapi tetap dapat dinikmati keindahan bentuk dan warnanya. Tak heran nama Zinnia semakin populer karena kecantikannya.

Sabtu, 31 Januari 2015

Pojok alun-alun Magelang: dari Tembelekan hingga Mexican Petunia



Sabtu pagi adalah saat paling pas untuk melepas penat dengan jalan-jalan sekedar cuci mata. Bila kata orang sabtu itu adalah hari bermalas-malasan maka tidak bagi saya. Karena hanya di hari Sabtulah saya bisa merayu suami untuk mengajaknya keluar rumah tentunya untuk menyenangkan hati anak kami. Maklum suami saya harus bekerja tiap Senin hingga Jumat jadi hanya ada waktu senggang di hari Sabtu atau Minggu. Tapi hari Minggu saya lebih senang di rumah, terbiasa dari sejak dulu saat masih bekerja, hari Minggu dipersiapkan untuk istirahat agar hari Senin bisa semangat bekerja. Kini setelah tidak bekerjapun terbiasa begitu. Kalau jalan-jalan diluangkan di hari Sabtu sehingga hari Minggu bisa digunakan untuk menemani suami istirahat di rumah.

Singkat cerita kali ini kami mengisi Sabtu pagi dengan berjalan-jalan ke alun-alun Magelang. Selain buat menyenangkan si buah hati kami sebenarnya juga bermaksud untuk sedikit berolahraga jalan kaki mengitari alun-alun. Biasanya di hari Sabtu cukup banyak orang berjalan kaki santai untuk sedikit meregangkan otot atau olahraga ringan, tapi di hari Minggu jauh lebih ramai karena di sekitar jalan alun-alun tersebut setiap Minggu pagi dipakai untuk car free day.

Baru kali ini saya menyadari ternyata alun-alun Magelang cukup menarik untuk dijadikan tempat refreshing ringan. Selain bisa berolah raga jalan kaki, kita juga bisa menikmati jajanan tradisional yang murah meriah di deretan utara alun-alun. Bakso, soto, batagor, gudeg, siomai, es dawet, sup buah sampai kue leker pun dijajakan di tenda-tenda pedagang kaki lima di sana. Tak hanya itu, alun-alun Magelang ternyata kalau diperhatikan juga memiliki panorama yang lumayan menarik, bersih dan sejuk di pagi hari. Dan saat panas melanda di siang hari pun kita masih bisa menikmati kesejukan di bawah pohon-pohon yang rindang di sisi selatan alun-alun. Ada tempat duduk yang disediakan untuk berteduh di bawah pohon. Dari tempat duduk itulah kemudian perhatian saya tertuju pada suatu hal. Yaitu suatu taman mungil di sisi selatan alun-alun bagian timur. Disana saya melihat beberapa macam bunga-bunga khas taman yang ditata cukup rapi. Saat ini bunga-bunga itu sedang bermekaran. Entah sejak kapan, padahal saya sebenarnya cukup sering lewat daerah ini, tapi biasanya tidak terlalu memperhatikan. 
Doc. Arrum
Doc. Arrum
Pertama yang saya lihat di taman tersebut adalah bunga kertas atau  dikenal dengan istilah keren Zinnia. Bunga ini pas banyak-banyaknya mekar, ada yang putih, merah, pink dan jingga. Saya baru menyadari ternyata bunga kertas ini bagus juga kalau ditata dengan rapi. Sebelumnya atau dulu jaman saya masih kecil, bunga kertas ini sering saya jumpai tumbuh liar begitu saja. Kalau di kampung saya bunga ini banyak tumbuh di sekitar makam, kebun-kebun yang tidak terawat, pinggir jalan, pinggiran sungai  atau di pekarangan-pekarangan rumah. Agaknya jaman saya masih kecil bunga ini tidaklah tergolong sebagai bunga yang populer. Malah bunga yang biasa tumbuh liar ini dikategorikan dalam kelas paling bawah dan seringnya malah dipakai untuk mainan anak-anak. Tak taunya jaman sekarang bunga ini justru cukup populer hingga menjadi komoditas yang bisa diperjualbelikan, mungkin karena menyandang nama yang lumayan keren “Zinnia”.

Selaian Zinnia ada lagi bunga yang tak kalah menarik perhatian saya, yaitu bunga lilin. Bunga lilin atau sitilah ilmiahnya Pachystachys lutea ini juga turut menghias taman mungil di alun-alun Magelang. Bunga dengan warna kuning ini juga sudah lama saya kenal. Beda halnya dengan Zinnia, kalau di kampung saya dulu bunga lilin menjadi bunga cukup favorit untuk ditaruh di depan rumah. Beberapa tetangga saya memang ada yang sengaja mempercantik halaman rumahnya dengan menanam bunga lilin. Tapi kalau sekarang saya pulang kampung, agaknya saya sudah kesulitan menemukan bunga ini. Orang-orang jaman sekarang lebih senang menghiasi halaman rumah dengan tanaman tanaman yang pernah bergengsi dengan harga mencekik leher macam Jemani, Gelombang Cinta atau Aglaonema ketimbang memilih menanam bunga-bunga yang cantik layaknya bunga lilin. Endingnya, bunga lilin kini tergeser dalam golongan tanaman hias kelas soil cover yang biasa ditebar di taman-taman outdoor yang tidak banyak membutuhkan perawatan khusus.  

Di tanam mungil alun-alun magelang ini juga saya temukan bunga tembelekan. Tanaman semak ini banyak ragam warnanya dan jika berbunga bersamaan akan menampakkan kecantikan sebuah ruang. Bunga tembelekan dengan nama ilmiah Lantana camara ini memiliki ragam warna seperti putih, kuning, merah, ungu hingga jingga. Saya menemukan warna kuning, merang, jingga dan kuning di sana.

Ada lagi bunga yang sudah tidak asing lagi, yaitu bunga kuning nan mungil yang dikenal dengan kacang hias atau dalam bahasa Jawa disebut landep dan bernama ilmiah Arachis pintoi. Tanaman ini memang biasa difungsikan sebagai cover crop, yang selain berguna untuk melindungi kelembaban tanah, tanaman golongan kacang kacangan ini dapat menyuburkan tanah sekaligus mempercantik permukaan tanah.

Dan yang lebih menarik lagi adalah kehadiran bunga terompet ungu yang bermekaran dari setiap pokok tanaman. Cantik sekali. Adalah bunga Ruellia petunia atau dikenal dengan sebutan Mexican Petunia dan dalam bahasa Inggris biasa disebut dengan nama Ruellias. Bunga ini bukanlah golongan bunga petunia yang biasa kita kenal itu, namun bunga ini adalah bunga yang sekerabat dekat dengan Ruellia wild. Orang menyebutnya Mexican petunia karena bunga ini konon berasal dari daratan Mexico dan sekarang sudah banyak tersebar dipenjuru dunia termasuk Indonesia.

Adanya bunga-bunga ini mampu menambah semarak suasana kesejukan pagi tatkala saya berada di sekitarnya. Nyatanya saya terpesona karena bunga bunga ini bermekaran bersamaan. Tapi yang paling tragis adalah ketika saya baru menyadari adanya keindahan ini di sana, meski sudah beberapa kali kesana sejak saya tinggal dimagelang sekitar setahun lalu. Tak taunya memang pesona kecantikan di kota sejuta bunga ini nyata adanya.  

Latepost...

Galeri

Galeri
Eastern Rise (F1-Hybrid produk PT Known You Seed)